Sabtu, 30 Januari 2016

Ketika Kebaikan Hati Beranjak



 Kebaikan hati seolah telah menjadi sesuatu yang terlalu mewah untuk kita
miliki dan temui saat ini. Memilikinya ibarat menyimpan bara dalam
genggaman. Kebaikan hati akan membuat kita tidak 'competitive' dalam
dunia yang keras ini. Hati yang lembut dan lebih 'manusiawi' hanya akan
menghambat kita dalam meraih sukses. Sebaliknya, hati yang 'tegaan' dan
lebih 'rasional' dianggap akan lebih melapangkan jalan keberhasilan.

Menemui kebaikan kini juga seolah semakin sulit. Kita semakin suka
berprasangka atas kebaikan yang kita lihat. Tidak ada kebaikan yang
tulus, semua pasti ada 'sesuatu' di baliknya. Tidak ada makan siang yang
gratis. Bahkan kebaikan hati kini sering dituding sebagai penyebab
keterpurukan dan nasib sial. Ketika seorang teman ngemplang tidak
membayar hutang, orang-orang mempersalahkan saya. Saya dianggap 'terlalu
baik' dan tidak berhati-hati sehingga mudah tertipu tampilan luar
seseorang. Dan tidak ada seorangpun yang mempersalahkan ! teman yang
ngemplang tersebut!

Berbagai kejahatan dari kelas teri hingga kelas kakap yang kita saksikan
sehari-hari di media cetak dan televisi, semakin membekukan hati kita.
Selalu waspada dan jangan pernah lengah. Berbaik hati hanya akan
menurunkan kewaspadaan dan membuat kita tertipu dan celaka. Saya pun
larut dalam arus besar itu. Sampai suatu ketika di akhir November lalu
saya menonton sebuah acara reality show di salah satu stasiun televisi
swasta.

Di acara tersebut seorang aktor akan berlakon sebagai orang yang
membutuhkan pertolongan. Lalu ia akan meminta tolong pada semua orang
yang ditemuinya secara acak. Orang yang memberi pertolongan akan
mendapatkan hadiah. Semua kejadian di rekam oleh kamera tersembunyi
sehingga diyakini bahwa orang yang menolong itu benar-benar tulus.

Pada edisi itu, ditampilkan seorang nenek tua yang kumal dan lusuh
penampilannya, dan diskenariokan meminta minyak tanah ala kadarnya
untuk memasak. Sang nenek pun berkeliling dari pintu ke pintu,
lengkap sambil menenteng kompor dan jerigen minyak yang juga tak kalah
kumalnya dengan penampilan si pemilik.

Bertemu orang pertama, sang nenek ditolak secara halus. Berikutnya, di
sebuah warung kelontong yang cukup besar dan ramai, sang nenek kembali
ditolak. Si pemilik warung terlihat waspada dan 'menginterogasi' si
nenek, curiga si nenek adalah penipu. Berikutnya di sebuah rumah
sederhana, sang nenek kembali ditolak, bahkan dengan kasar.

Sampai akhirnya sang nenek bertemu dengan seorang lelaki setengah baya
pengecer minyak tanah yang sedang mengisi stok minyak di sebuah warung.
Seorang lelaki yang gigih. Kerasnya kehidupan tampak jelas tergurat di
wajahnya yang hitam berpeluh. Namun wajah itu terlihat ramah dengan
senyum. Seperti sebelumnya, tanpa basa basi, sang nenek menghampiri dan
meminta minyak tanah kepada si penjual itu. Si penjual minya! k tanah
tampak sabar dan tekun menyimak penjelasan si nenek. Selesai sang nenek
bercerita, tanpa berkata apa-apa, si penjual minyak langsung mengambil
jerigen si nenek dan mengisinya. Tetap dengan wajah ramahnya. Tak ada
sedikitpun rona kecurigaan, apalagi pertanyaan-pertanyaan 'interogasi'.
Bahkan ketika sang nenek 'ngelunjak' meminta kompor bututnya diperbaiki
pula, si penjual minyak tetap melayaninya dengan ramah. Tak ada
sedikitpun perubahan rona di wajahnya.
Benar-benar tulus, tanpa prasangka!

Jadilah si penjual minyak 'pemenang' di acara tersebut. Ketika berikutnya sang
pemenang diwawancara, semakin terkuaklah 'mutiara' itu. Pengecer minyak
tanah itu ternyata cacat. Slamet, lelaki setengah baya itu, terlahir
dengan kedua kaki yang cacat dan sebelah mata buta!. Setiap hari ia
mencari nafkah berjualan minyak berkeliling perumahan, keluar-masuk
kampung, menyusuri jalan raya, dengan sebuah sepeda tua yang dikayuh
dengan sebelah tangannya!

Dan mengalirlah kemudian kisah tentang sebuah ketegaran jiwa, ketulusan
menjalani garis hidup, kegagahan menghadapi kerasnya ombak zaman, dari
seorang Slamet. Dan wawancara diakhiri dengan sebuah kalimat yang begitu
menggetarkan dari Slamet, "Saya percaya Tuhan itu Maha Adil". Seketika
itu, runtuhlah semua kesombongan diri, hancur berkeping diterjang
gelombang kesederhanaan. Musnah semua arogansi
intelektualitas, tenggelam dalam kebeningan perasaan. Lepas segala
ambisi dan nafsu duniawi, jatuh tersungkur di hadapan ketulusan seorang
hamba, hamba yang begitu tulus menjalani hidupnya. Dengan semua
ujian hidup yang begitu berat, dia tetap tersenyum ramah kepada
siapapun, menolong semua tanpa membeda-bedakan walau hanya dalam
batas kemampuannya, tak ada iri dan dengki terhadap sekelilingnya
yang hidup jauh lebih beruntung, dan dengan ikhlas
berkata: Tuhan Maha Adil!.

Saya tergugu. Betapa buruknya kita di hadapan seorang Slamet. Kita yang
intelek dan terpandang, dipenuhi dengan berbagai nikmat, namun masih
merasa tidak cukup. Seringkali protes ketika hanya mendapat sebuah
ujian. Menjadi bebal dan keras hati oleh berlimpahnya materi dan kedudukan.

Hati yang tulus dan lembut masih ada bahkan banyak, bertebaran memenuhi
persada. Memeliharanya memang sulit namun bukan sesuatu yang mustahil.
Dunia yang keras dan culas tidak cukup menjadi alasan bagi kita untuk
menumpulkan dan membekukannya. Karena kebaikan dan kelembutan hati

bukanlah suatu hal bodoh dan sia-sia dalam dunia yang bergetah ini.

Things Don't Change, You Change! Berani berubah.

Things Don't Change, You Change!
Berani berubah. Berani keluar dari zona kenyamanan (comfort zone).



Rupanya itulah salah satu resep orang-orang sukses. Bagaimanapun
kondisi mereka, kekurangan mereka, kelemahan mereka, semua itu tidak
menjadi sebuah kendala.
Lihatlah Julius Caesar, meski menderita
epilepsy, ia berhasil menjadi seorang jenderal dan kemudian menjadi
kaisar. Lalu juga Napoleon, walau berasal dari keluarga sederhana,
juga berhasil menjadi jenderal.
Bethoven bahkan menulis beberapa
lagu terbaiknya justru sesudah telinganya tuli sama sekali. Atau
Charles Dickens yang menjadi novelis Inggris terbesar meski kakinya
pincang dan lahir dari keluarga yang sangat miskin.
Atau Milton yang
menggubah sajak-sajaknya yang paling indah bahkan sesudah ia menjadi
buta.

Orang-orang ini sanggup mengubah kekalahan jadi kemenangan,
kekurangan jadi prestasi.
Itulah orang-orang yang yakin bahwa
keunggulan, kemenangan, keberhasilan dan kejayaan adalah fungsi
garis lurus dari kemauan dan keberanian untuk berubah.
Semua memang
bergantung bagaimana sikap pikiran kita menghadapi gejolak kehidupan.


Apakah benar kita sudah berubah? Apa tanda-tandanya? Jika benar kita
sudah melakukan perubahan, biasanya kita akan mengalami situasi yang
tidak nyaman. Karena setiap perubahan pasti menuntut kita keluar
dari zona kenyamanan (comfort zone).
Itulah sebabnya tidak banyak
orang yang benar-benar menyukai perubahan.
Sebab untuk berubah ke
arah yang lebih baik, biasanya memang tidak gratis dan memang tidak
nyaman.
Ada 'harga' yang harus kita bayar! Entah itu pengendalian
sikap kita, pengorbanan waktu kita, fokus pikiran kita, bahkan
terkadang bisa jadi terimbas juga pada keluarga kita.


Berubah berarti keluar dari kebiasaan-kebiasaan lama, membentuk
kebiasaan-kebiasaan baru.
Berhenti bekerja dengan cara-cara lama
(yang biasanya sudah rutinitas), lalu terpaksa belajar lagi untuk
bisa bekerja dengan cara-cara baru (tentu saja ini tidak terlalu
nyaman).
Akan tetapi, siapapun yang mau melakukannya, dan bersedia
untuk keluar dari zona kenyamanannya, insyaAllah 99,9% pasti akan
berhasil melaluinya. Sedang mereka yang masih dikuasai bisikan untuk
menentang perubahan, dengan tetap mempertahankan kebiasaan-kebiasaan
lama pasti akan tergilas, tertinggal, dan gagal.

Untuk mendapatkan hasil yang berbeda, lakukanlah dengan cara yang
berbeda. Untuk mengubah nasib ya berubahlah. Kalau kita kita mau
mengubah arah, kita akan berakhir di tempat yang sama.

Memang yang paling sulit adalah mengubah sikap atau attitude kita.
Betapa tidak, selama ini kita sangat suka dan nyaman dengan sikap
itu.
Lalu tiba-tiba kita harus mengubah sikap-sikap yang biasanya
kita suka itu menjadi sikap-sikap baru! Kalau selama ini kita
tergolong orang yang senang dilayani, tentu tidak mudah untuk segera
berubah menjadi manusia baru: suka melayani. Kalau kita terbiasa
tidur sampai matahari terbit, tentu tidak mudah untuk bangun shalat
malam.
Kalau biasanya kita begitu mudah tersinggung bahkan naik
pitam, tentu sedikit lebih sulit untuk menjadi lebih sabar.
Kalau
kita takut melakukan sesuatu yang baru, tentu sulit untuk segera
memulainya, sehingga selalu saja ada ribuan alasan untuk terus
menundanya.


Berubahlah. Tinggalkan zona kenyamanan. Memang akan ada tekanan dari
berbagai arah. Ada banyak pergolakan batin. Ada banyak keluhan atas
berbagai kesulitan.
Akan banyak gejolak emosi yang menghimpit. Tapi
itu adalah sebuah keniscayaan.
Suatu jalan yang mau tidak mau
terpaksa harus kita tempuh.
Itulah sebuah pertanda jalan yang kita
tempuh memang benar.
Tidak mudah memang. Tetapi teruslah berjalan....

oleh : Nilnaiqbal - www.editorku.com

Belajar Menerima Kekalahan


 Dalam perjalanan hidup manusia tak akan pernah luput dari kekalahan dan kemenangan. Kekalahan kemenangan ini jangan hanya diartikan sempit terjadi dalam suatu kompetisi atau pertandingan saja, tetapi banyak hal di dalam kehidupan ini dapat diartikan sebagai kekalahan dan kemenangan diri.

Saat kita berhasil lulus kuliah dengan nilai yang baik, kita akan sangat merasa bahagia karena kita pasti akan merasa waktu 4 tahun belajar tidak sia-sia belaka, kita berhasil, kita menang melawan nafsu-nafsu untuk akhirnya mendapatkan nilai yang bagus. Kemenangan diri bisa diartikan kesukseksan yang bisa kita capai.

Lawan dari kemenangan, adalah hal yang terkadang sulit kita terima, yaitu kekalahan. Kekalahan sangat menyakitkan apabila kita sangat berharap dan tidak mendapatkannya, terlebih bila tidak disertai perasaan untuk menerima kekalahan tersebut.

Banyak orang merasa gagal dan tidak memiliki semangat hidup lagi saat menerima kekalahan tersebut. Bahkan terkadang kekalahan ini membawa emosi jiwa yang berlarut-larut dan akhirnya membawa kita dalam keadaan depresi dan merasa sangat tidak berguna.

Frustasi karena putus cinta juga merupakan suatu kekalahan diri, apabila kita tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Kita berharap suatu keadaan bahagia bersama pasangan, kita menerima perasaan cinta pasangan kita, dan suatu hari kita harus sadar kita sudah tidak bersama dia, bahwa dia bukan jodoh kita. Rasanya kenyataan ini begitu pahit, kita tidak bisa menerima kenyataan, dan kita terus dihantui rasa sedih. Bukankan ini berarti kita kalah untuk melawan rasa frustasi tersebut, apabila dibiarkan berlarut-larut?

Dalam kekalahan, bukan selalu berarti kita kalah, kita masih bisa menang, kita masih bisa mencapai keadaan yang kita harapkan, tetapi hal utama bangkit dari kekalahan adalah tekad dan kemauan dalam diri kita, dan juga kerelaan menerima kenyataan bahwa yang kita harapkan tidak selamanya bisa menjadi kenyataan. Inilah dinamika kehidupan. Inilah perjalanan hidup manusia, dimana terkadang kekalahan itu juga memiliki makna yang dalam. Dengan kekalahan, kita diterpa untuk berusaha. Dengan kekalahan, kita dipaksa untuk membuka mata kita terhadap kemenangan orang. Dengan kekalahan, kita belajar untuk menerima dan bersikap rendah hati. Dengan kekalahan, kita diharapkan bangkit. Dengan kekalahan, kita bisa menatap hal-hal indah di sekitar kita.


Hidup ini begitu indah, banyak waktu yang terbuang apabila hanya kekalahan dan kegagalan saja yang dipikirkan. Banyak hal dalam hidup ini yang masih bisa kita capai. Mentari yang akan datang, pasti akan bersinar lebih indah bila kita tatap dengan semangat baru untuk bangkit dari kekalahan ini

salam sukses

Minggu, 17 Januari 2016

Mencegah Stres Keuangan

Pernah mengalami kondisi di mana perasaan kita seperti orang yang bangkrut? Atau, malah pernah merasakan bangkrut dalam arti sebenarnya?

Sebenarnya seberapa pun jumlah uang yang kita miliki, semua tergantung pada bagaimana kita menyikapinya. Jika bisa mengelola dengan bijak, serta tidak menjadikan uang sebagai satu-satunya ukuran kebahagiaan, maka stres karena uang bisa kita hindari. Namun, jika masih sering merasakan stres karena urusan uang, beberapa hal berikut bisa dicoba agar uang jadi “sahabat” dan bukan “beban”:

• Kurangi berbagai keinginan
Daripada merasa stres karena terlalu banyak pilihan, akan lebih baik fokus pada beberapa keinginan saja. Niscaya, kebutuhan keuangan yang dirasa sulit dipenuhi akibat terlalu banyak pilihan, akan berkurang dengan sendirinya, sehingga derajat stres pun bisa dikurangi.

• Sadari bahwa ada yang lebih berkekurangan
Semepet-mepetnya sisa uang, syukuri bahwa masih ada uang yang tersisa. Sementara, bisa jadi di luar sana ada orang yang tak punya uang sama sekali. Kalau itu belum cukup mengatasi rasa tertekan akibat kurang uang, coba ingat-ingat, pasti pernah suatu kali Anda merasa berada di ujung tanduk. Ada masalah yang seolah tak bisa terselesaikan, tapi ternyata berhasil Anda lewati. Jadikan itu sebagai referensi, bahwa akan selalu ada harapan di tengah berbagai ujian asalkan kita tetap bijak dan semangat untuk memperbaiki kondisi yang terjadi.

• Komunikasikan dengan orang terdekat
Salah satu fakta menyebutkan, bahwa rumah tangga kadang hancur gara-gara masalah keuangan. Begitu juga hubungan baik pertemanan, bisa putus gara-gara soal fulus. Maka, salah satu hal utama yang perlu dilakukan agar tak mengalami stres soal keuangan adalah dengan mengomunikasikan segala hal tentang uang dengan pasangan atau orang terdekat yang bisa diajak mencari solusi terbaik bersama-sama.

• Patuh pada rencana yang telah ditetapkan
Salah satu cara untuk mengurangi beban pikiran soal uang adalah dengan mengalokasikan keuangan bulanan pada kas-kas yang telah ditentukan. Pos pengeluaran yang sudah pasti akan membuat kita lebih mudah mengatur uang—saat sedang berlebih dan saat sedang kekurangan—sehingga tahu persis skala prioritas mana yang lebih penting untuk didahulukan. Dari rencana itu, kita juga bisa mengevaluasi, pos mana saja yang berpotensi membuat kita stres. Jangan-jangan, rasa senang di awal bulan karena bisa beli barang idaman, begitu di akhir bulan berubah jadi stres karena tak bisa membayar hal yang lebih penting.

• Alokasikan uang untuk “bersenang-senang”
Salah satu cara untuk menghindari dari stres adalah melakukan rekreasi. Setelah me-manage keuangan dengan baik, alokasikan uang “sisa untuk memanjakan diri menikmati barang atau jasa dengan potongan harga atau promosi khusus yang sering ditawarkan berbagai toko. Sensasi mendapat barang dengan harga yang lebih murah kadang mampu membuat seseorang bisa lebih bahagia, karena efek “merasa” telah berhemat untuk mendapat barang tertentu. Sensasi rasa senang itulah yang akan membuat rasa stres bisa berkurang. Tentu dengan catatan, jangan sampai malah kebablasan.

Pada intinya, kita sendiri yang bisa mengatur kondisi jiwa dan pikiran. Kalau stres karena uang, coba tengok kembali, evaluasi diri, apa saja yang perlu dibenahi dalam mengatur keuangan kita. Jika kita berhasil mengendalikan keuangan kita secara efektif dan efisien, niscaya rasa stres pun bisa kita taklukkan. 
Sukses selalu untuk Anda!
Oleh Tim AndrieWongso

Sabtu, 16 Januari 2016

Akibat Memelihara Sikap Negatif


Alkisah di lereng barat sebuah pegunungan, tumbuh sebatang pohon Sequoia yang sangat tinggi dan besar. Tingginya yang menjulang ke langit, membuat Sequoia termasuk pohon terbesar dan tertinggi di dunia. Umurnya pun tergolong sangat panjang. Meski menghadapi berbagai amukan ganas alam semesta—banjir, badai dan kekeringan—tapi pohon itu masih tetap tegak dan kokoh berdiri.

Namun beberapa tahun yang lalu, seekor kumbang kecil mulai membenamkan diri ke dalam kulit pohon Sequoia untuk bertelur. Mula-mula peristiwa ini tampak sangat kecil dan tak berarti, namun dengan segera, jumlah kumbang tersebut menjadi berlipat ganda. Mula-mula beratus-ratus, kemudian beribu-ribu, dan akhirnya berjuta-juta. Semula mereka hanya menggerogoti kulit kayu, tapi kemudian makin dalam dan semakin dalam lagi sehingga berhasil menembus batangnya, bahkan akhirnya kumbang-kumbang itu berhasil memakan inti batang pohon raksasa tersebut.

Pada suatu hari, hujan turun dengan sangat deras disertai angin kencang. Dan ketika halilintar menyambarnya, pohon Sequoia raksasa yang hebat itu pun roboh. Ia tumbang lebih karena pengaruh yang melemahkan dirinya, yakni dari kumbang-kumbang kecil yang begitu banyak jumlahnya, yang telah menggerogotinya secara perlahan-lahan.

Sahabat luar biasa,

Kisah di atas persis sama dengan pengaruh kebiasaan buruk terhadap manusia. Secara perlahan tapi pasti, suatu kebiasaan buruk akan menggerogoti manusia, sampai pada suatu saat—sebagaimana Sequoia—ia pun pasti roboh.

Mari, tetap konsisten berpikir dan bertindak positif (optimis, rajin, disiplin, jujur, dll). Jika muncul sedikit saja sikap negatif, segera basmi!
Semoga bisa membuat kualitas hidup kita semakin baik pula.

Salam sukses luar biasa!!
Oleh Tim AndrieWongso

Apakah Anda Berpotensi Menjadi Pemimpin


Pada dasarnya setiap manusia memiliki potensi untuk menjadi seorang pemimpin, hanya saja terkadang tanda-tanda potensi tersebut sama sekali tidak disadari. Pernahkah Anda berpikir untuk mengambil sebuah kesempatan promosi misalnya, tapi merasa ragu akan kemampuan diri sendiri? Berikut ini adalah beberapa tanda bahwa Anda seorang pemimpin yang baik (tapi Anda mungkin tidak menyadarinya):

1. Mudah didekati
Jika Anda mendapati bahwa seringkali teman atau rekan kerja meminta nasihat atau pendapat Anda, itu artinya mereka menghargai dan menilai Anda adalah orang yang tepat untuk memberikan nasihat. Mudah didekati adalah salah satu kualitas penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

2. Tetap tersenyum, meski dalam kesulitan
Menjaga profesionalitas adalah tetap berusaha untuk mendengarkan dengan baik dan berpikir dengan tenang dalam berbagai kondisi. Tetap tersenyum dan tidak terbawa emosi saat situasi sulit dan penuh tekanan!

3. Berpikiran terbuka
Berpikiran terbuka adalah salah satu keahlian utama menjadi pemimpin yang baik. Karena pemimpin yang baik tahu kelebihan dan bisa menerima kekurangannya. Jika Anda bisa menerima sebuah saran dan kritik yang membangun, maka Anda adalah seorang pemimpin.

4. Berterus terang
Tegas dan tidak bertele-tele dalam menyampaikan segala sesuatu. Tidak berusaha mempermanis sebuah pembicaraan tapi langsung pada intinya. Itu adalah contoh salah satu sifat pemimpin sejati.

5. Bertanggung jawab, meskipun terpaksa
Ada waktu di mana Anda merasa malas untuk beraktivitas. Di saat orang lain memilih untuk bersantai, Anda tetap memaksakan diri untuk bangkit dan melakukan pekerjaan (karena ada orang lain yang bergantung pada Anda). Ada masanya seorang pemimpin harus tetap maju dan bertanggung jawab di saat tidak ada orang lain yang ingin melakukannya.

6. Memperlakukan orang lain sama tanpa didasari oleh perasaan pribadi/mood
Baik itu di rumah, sekolah maupun di kantor, seburuk apa pun yang terjadi pada hari itu, Anda memperlakukan orang di sekitar Anda dengan perlakuan yang sama. Seorang pemimpin yang baik bisa memilah antara urusan pribadi dan urusan profesional.

7. Percaya diri tapi tidak takut untuk meminta bantuan atau dukungan
Pemimpin yang baik sekalipun, tidaklah sempurna. Mereka yakin dengan pilihan dan keputusan yang dibuat tetapi mereka tidak takut untuk meminta saran ataupun bantuan ketika diperlukan. Jika Anda merasa terjebak dalam suatu keadaan dan kemudian meminta bantuan atau saran dari orang lain, itu adalah hal yang baik.

8. Memiliki banyak energi positif
Seorang pemimpin yang baik bisa tetap bersikap optimis dan menyebarkan energi yang positif dalam situasi seburuk apapun. Hal ini penting karena ketika anggota lain di tim mulai patah semangat dan pesimis, mereka membutuhkan rasa optimis dari pemimpin untuk mengobarkan kembali semangat mereka. Jika Anda selalu bisa melihat segi positif dari setiap kejadian seburuk apapun dan mampu menularkan energi positif Anda, maka bisa dikatakan Anda memang berpotensi untuk menjadi pemimpin.

9. Menolong tanpa pamrih
Apakah Anda pernah membantu menyelesaikan tugas orang lain hanya karena tugas tersebut memang harus diselesaikan dan bukan karena anda diperintah untuk membantu?  Pemimpin yang baik selalu menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan dari siapapun.

10. Peduli dengan tulus
Jika Anda lebih mementingkan kepentingan orang lain dari pada kepentingan sendiri, meluangkan waktu untuk orang lain karena Anda benar-benar peduli akan perasaab/keberadaan orang lain, maka Anda memang memiliki potensi untuk menjadi pemimpin.

Punya beberapa poin di atas? Besar kemungkinan bahwa Anda bisa menjadi seorang pemimpin. Hanya perlu sedikit keberanian untuk lebih percaya diri dan berinisiatif mewujudkannya. Tidak ada yang bisa menghentikan Anda untuk menjadi sosok yang anda inginkan, kecuali diri Anda sendiri. Ingatlah bahwa dunia selalu membutuhkan seorang pemimpin yang baik!

Salam sukses Luar Biasa!
Oleh Tim AndrieWongso

Manajemen Waktu dan Aktivitas

Setiap orang mendapatkan “hadiah” yang sama setiap hari: waktu, energi, dan pilihan.Time, energy, and choice yang dikelola dengan baik merupakan aset untuk sukses. Dibandingkan dengan metode manajemen waktu, manajemen aktivitas berdasarkan waktu merupakan pilihan yang lebih efektif, menurut Mark Woods dan Trapper Woods dalam buku mereka Attack Your Day! Before It Attacks You.

Kelolalah ketiga hal ini dengan baik, maka sukses sudah di tangan. Pasti!

Manajemen waktu yang ditawarkan Mark dan Trapper ini berbasis aktivitas. Intinya, pilihlah aktivitas dengan prioritas tinggi, catat dengan baik, kelola dengan baik, jalankan dengan baik, dan fokuslah dengan tepat. Dalam Bahasa Inggrisnya: choosing activities, tracking activities, arranging activities, flexicuting activities, and focusing on activities.

Choosing activities. Tentukan dulu hasil yang mau dicapai, setelah itu baru jalankan tahapan-tahapannya. Contohnya, Anda ingin memiliki rumah seharga Rp300 juta dalam 3 tahun, maka hitunglah berapa yang perlu Anda tabung dalam setiap tahun. Bagilah dalam 12 bulan, sehingga Anda mendapatkan jumlah bulanannya, mingguan, dan harian. Demikian pula jika Anda ingin membentuk six-pack abs dalam 90 hari, maka hitunglah berapa sit-up yang perlu Anda lakukan per hari.

Tracking activities. Gunakan jurnal dalam bentuk kertas maupun elektronik, bisa di BB atau iPhone atau smartphone lainnya. Buatlah list of things to do setiap hari. Gunakan warna yang berbeda untuk prioritas yang berbeda. Ada kegiatan bulanan, ada kegiatan mingguan, dan ada kegiatan harian. Kegiatan tahunan misalnya medical check-up juga perlu dituliskan di dalam jurnal kegiatan.

Arranging activities. Fase ini bisa juga disebut sebagai fase perencanaan aktivitas. Namun dibandingkan dengan “merencanakan,” arranging lebih tepat di terjemahkan sebagai “mengelola” aktivitas. Tandai jam-jam di mana Anda merasa paling kreatif. Kesempatan ini bisa ditemui untuk diskusi dengan tim, atau mengisolasi diri dari orang lain supaya bisa fokus untuk hal-hal yang butuh konsentrasi tinggi.

Juga jangan lupa untuk mengalokasikan waktu paling tidak 30 sampai 60 menit per hari untuk berolah raga, menjernihkan pikiran, meditasi, atau mengisi jurnal perencanaan hari berikutnya.

Flexicuting activities. “Flexicuting” berasal dari dua kata yang digabungkan “flexible” dan “executing” atau flexible execution. Dalam eksekusi, tidak perlu terlalu kaku mengikuti perencanaan yang telah ditulis di jurnal. Namun usahakan supaya tidak ada interupsi maupun distraksi yang mengganggu kelancaran aktivitas.

Jalankan aktivitas dari yang berprioritas tertinggi, satu per satu sehingga selesai secepatnya dengan minimal revisi.

Focusing on activities. Belajarlah untuk menolak hal-hal yang di luar prioritas Anda pada hari ini, minggu ini, bulan ini atau bahkan tahun ini. Namun “interupsi” yang membangun aktivitas yang telah direncanakan tentu saja boleh dipertimbangkan.

Intinya adalahfokus pada aktivitas namun membuka diri terhadap hal-hal membangun dan menutup diri terhadap hal-hal yang membebani aktivitas maupun memperlemah hasil akhir yang diharapkan.Internet surfing, misalnya bisa menjadi faktor akselerasi aktivitas apabila digunakan untuk riset. Namun ia bisa menjadi faktor yang memperlemah hasil akhir apabila ternyata digunakan untuk hal-hal yang fun saja.

Banyak orang kurang bisa menolak ketika tugas maupun aktivitas ditambah. Tentu saja apabila atasan Anda yang meminta, maka wajib diterima dan dijalankan. Namun sering kali hanya teman di luar pekerjaan yang minta tolong ini dan itu. Maka ini harus dengan tegas dan ramah ditolak.

Akhir kata, setiap hari kita diberi 24 jam serta hadiah waktu, energi, dan pilihan. Bagaimana kita mengalokasi waktu setiap jamnya dengan aktivitas-aktivitas yang mendekatkan kita ke tujuan merupakan tantangan yang perlu dijalankan setiap hari.Setiap hari adalah pilihan untuk menuju masa depan yang lebih baik.
Kesuksesan sendiri adalah mindset dan instrumen-instrumen yang digunakan adalah waktu, energi, dan pilihan.

___________

Jennie S. Bev (penulis berprestasi internasional, pebisnis, dan pengajar bermukim di California. Ia bisa dijumpai di JennieSBev.org). Tulisan-tulisan selengkapnya, dapat juga Anda baca di majalah motivasi LuarBiasa. Informasi: (021) 6339523

Jejak Kaki yang Bermakna

Alkisah, ada sepasang suami istri yang sangat mengharapkan kehadiran momongan. Setelah melalui berbagai macam usaha dan waktu yang lama, akhirnya mereka dikarunia seorang putera yang berparas tampan. Sayangnya, si anak menderita kelainan bawaan yakni  penyusutan otot sehingga berdampak pada kaki yang lemah yang tidak cukup kuat untuk menopang tubuh yang bertumbuh.

Dokter menyarankan, “Bapak, ibu. Tidak ada cara lain untuk membuat putera anda kelak bisa berdiri dan berjalan sendiri, yaitu dengan membiarkan dia berjalan dan melakukan segala sesuatunya sendiri. Anda berdua harus tega demi masa depannya. Itu satu-satunya jalan jika kelak ingin melihatnya bisa berjalan sendiri”. Sejak saat itu, dengan penuh sayang dan hati yang pedih, mereka setiap hari harus melihat putera kesayangan bersusah payah belajar berjalan, terjatuh, sakit, kadang terluka hingga menangis dan kemudian harus mulai bangkit dan berjalan lagi. Begitu seterusnya.

Suatu hari, saat si anak berusia 9 tahun, terjadi peristiwa yang cukup tragis. Hari itu, udara begitu dingin, salju turun dengan cukup lebat. Jarak dari rumah ke sekolah kira-kira 1 kilometer.  Saat sekolah usai, si anak sangat berharap orang tuanya akan datang menjemput dan membantunya berjalan pulang. Ditunggu-tunggu dengan cemas, hingga sekolah sepi, orang tuanya tak kunjung tiba. Hati anak itu pun dipenuhi dengan kekecewaan, kemarahan dan kebencian.

“Papa Mama kejam. Jahat. Tidak sayang padaku. Membiarkan aku menderita. Aku benci mereka!!” sambil mengertakkan gigi, dia pun berjalan pulang dengan langkah terseok-seok. Jalanan tertutup oleh salju dan itu sangat menyulitkan untuk mengatur langkah kakinya yang lemah. Setapak demi setapak. Berkali-kali dia jatuh, kesakitan, memar dan bahkan berdarah. Setiap kali terjatuh, hatinya semakin sakit dan kebencian kepada orang tuanya makin membara. Tekad di dadanya bulat untuk membenci orangtuanya seumur hidup.   

Akhirnya...si anak tiba di depan rumah. Saat pintu dibukakan, ayah dan ibunya segera memeluk dan menangis dengan histeris.

“Anakku, kamu hebat sekali! Kami tahu kamu sangat menderita, kami melihat dari jauh setiap langkah dan kejatuhanmu, maafkan ayah dan ibu yang tidak membantumu. Tapi lihatlah ke belakang....bekas tapak kakimu di atas salju....dan itu adalah tapak kakimu sendiri, Nak. Kamu sendiri, berhasil melalui perjalanan sulit hari ini. Ingat nak, hari-harimu ke depan masih panjang dan tidak mudah, tetapi dengan kemampuanmu hari ini, papa mama yakin dan percaya, kamu akan bisa melaluinya, dengan percaya diri dan tanpa perlu bertopang kepada orang lain”. 

Si anak pun segera larut dalam tangis bahagia. Karena ternyata orang tuanya bukannya tidak menyayangi tetapi mereka menunjukkan kasih sayang dengan membiarkan berjalan sendiri menyongsong masa depan yang akan dilalui nantinya